Minggu, 18 Desember 2016

Tinjauan pustaka pisang kepok

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Pisang Kepok
2.1.1 Definisi Tanaman 
Pisang merupakan salah satu komoditas buah unggulan Indonesia. Luas panen dan produksi pisang selalu menempati posisi pertama. Pada tahun 2002 produksinya mencapai 4.384.384 ton dengan nilai ekonomi sebesar Rp 6,5 trilliun. Produksi tersebut sebagian besar dipanen dari pertanaman kebun rakyat seluas 269.000 ha. Tanaman pisang disamping untuk konsumsi segar beberapa kultivar pisang di Indonesia juga dimanfaatkan sebagai bahan baku industri olahan pisang misalnya industri kripik, sale dan tepung pisang  (Qomariyah, 2015). Tanaman pisang juga dapat digunakan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit seperti pendarahan rahim, ambeien, cacar air, disentri, amandel, kanker perut, sakit kuning ( lever ), pendarahan usus besar, diare dan luka (Maya, Citraningtyas, & Lolo, 2015).
Pisang kepok adalah tumbuhan buah berupa tumbuhan herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman pisang kepok merupakan tanaman asli daerah Asia Tenggara dengan pusat keanekaragaman utama wilayah Indonesia-Malaya (Suryandari, 2014). Tanaman pisang kepok yang dimanfaatkan oleh masyarakat yaitu air kulit pisang kepok. Tanaman mengandung senyawa aktif dalam bentuk metabolit sekunder  (Maya, Citraningtyas, & Lolo, 2015).
Metabolit sekunder merupakan senyawa yang terbentuk dalam tanaman (Maya, Citraningtyas, & Lolo, 2015). Senyawa-senyawa yang tergolong dalam kelompok metabolit sekunder antara lain saponin, alkaloid, tannin, dan flavonoid  (Dinastutie, YS, & Hidayati, 2015).

2.1.2 Klasifikasi dan Morfologi.                                   Tanaman
A. Kasifikasi
Berdasarkan klasifikasi taksonomi pisang kepok merupakan buah yang berasal dari taksonomi sebagai berikut :
Divisi : Spermatophyta
Sub Devisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledonae
Famili : Musaceae
Genus : Musa
Famili Musaceae dari ordo Scitaminae dan terdiri dari dua genus, yaitu genus Musa dan Ensete. Genus Musa terbagi dalam empat golongan, yaitu Rhodochlamys, Callimusa, Australimusa dan Eumusa. Golongan Australimusa dan Eumusa merupakan jenis pisang kepok yang dapat dikonsumsi, baik segar maupun olahan. Buah pisang kepok yang dimakan segar sebagian besar berasal dari golongan Emusa, yaitu Musa acuminata dan Musa balbisiana  (Suryandari, 2014).
B. Morfologi
Pisang kepok memiliki kulit yang sangat tebal dengan warna kuning kehijauan dan kadang bernoda coklat, serta daging buahnya manis. Pisang kepok tumbuh pada suhu optimum untuk pertumbuhannya sekitar 270 C dan suhu maksimum 380 C. Bentuk buah pisang kepok agak gepeng dan bersegi. Ukuran buahnya kecil, panjangnya 10-12 cm dan beratnya 80-120 gram. Pisang kepok memiliki warna daging buah putih dan kuning  (Prabawati, Satuhu, & Setyabudi, 2008).
2.1.3 Kandungan Kimia
Buah pisang mengandung pektin dalam konsentrasi tinggi. Kandungan pektin pada kulit pisang berkisar antara 0,9% dari berat kering. Pektin tersebut dapat diekstraksi dengan cara sederhana, biaya yang tidak mahal dan dapat diterapkan dalam skala kecil . 
Hingga tahun 2011, seluruh pektin yang digunakan di industri-industri Indonesia adalah barang impor. Jumlah impor pektin cukup besar, yaitu lebih besar dari 100 ton per tahun dan harganya sangat mahal, membuat  biaya impor pektin berdampak terhadap pengurangan devisa negara yang besar pula.

Pektin adalah polisakarida kompleks yang bersifat asam yang terdapat dalam jumlah bervariasi, terdistribusi secara luas dalam jaringan tanaman. Umumnya terdapat di dalam dinding sel primer. Khususnya di sela-sela antara selulosa dan hemiselulosa. Pektin juga berfungsi sebagai bahan perekat antara dinding sel yang satu dengan yang lainnya. Substansi pektin tersusun dari asam poligalakturonat, dimana gugus karboksil dari unit asam poligalakturonat dapat teresterifikasi sebagian dengan metanol. 
Senyawa pektin adalah asam pektat, asam pektinat dan protopektin :
Asam Pektat 
Asam pektat adalah senyawa asam galakturonat yang bersifat koloid dan pada dasarnya bebas dari kandungan metil ester 
Asam Pektinat
Asam pektinat adalah asam poligalakturonat yang bersifat koloid dan mengandung sejumlah metil ester. Pektin merupakan asam pektinat dengan kandungan metil ester dan derajat netralisasi yang berbeda-beda. 
Protopektin 
Protopektin adalah substansi pektat yang tidak larut dalam air, terdapat dalam tanaman, jika dipisahkan secara hidrolisis akan menghasilkan asam pektinat  (Hanum, Tarigan, & Kaban, 2012).
Senyawa asam pektinat atau pektin diberikan pada gambar 1 di bawah ini :


Gambar 1. Senyawa Asam Pektinat
2.2 Diare
2.2.1 Pengertian 
Menurut WHO (1999) secara klinis diare didefinisikan sebagai bertambahnya defekasi (buang air besar) lebih dari biasanya/lebih dari tiga kali sehari, disertai dengan perubahan konsisten tinja (menjadi cair) dengan atau tanpa darah. Secara klinik dibedakan tiga macam sindroma diare yaitu diare cair akut, disentri, dan diare persisten. Sedangkan menurut menurut Depkes RI (2005), diare adalah suatu penyakit dengan tanda-tanda adanya perubahan bentuk dan konsistensi dari tinja, yang melembek sampai mencair dan bertambahnya frekuensi buang air besar biasanya tiga kali atau lebih dalam sehari  (Mulyana & Kurniasih, 2015).
Diare adalah buang air besar (defekasi) dengan tinja berbentuk cair atau setengah cair (setengah padat), kandungan air tinja lebih banyak dari biasanya lebih dari 200 gram atau 200 ml/24 jam (Mulyana & Kurniasih, 2015).
2.2.2 Klasifikasi 
Menurut Suraatmaja, (2007) di bagi menjadi 2 yaitu: 
1. Berdasarkan lamanya diare: 
a. Diare akut, yaitu diare yang berlangsung kurang dari 14 hari. 
b. Diare kronik, yaitu diare yang berlangsung lebih dari 14 hari dengan kehilangan berat badan atau berat badan tidak bertambah (failure to thrive) selama masa diare tersebut  (Mulyana & Kurniasih, 2015).
2. Berdasarkan mekanisme patofisiologik: 
a. Diare sekresi (secretory diarrhea), yaitu diare yang terjadi akibat penurunan penyerapan dan peningkatan sekresi air dan transport elektrolit ke dalam usus. Fesesnya akan berupa cairan dengan osmolaritas yang normal (= 2x [Na + K]), dan tidak ditemukan adanya sel lekosit (sel darah putih). Contoh diare jenis ini adalah diare karena penyakit kolera, E. coli toxigenik, karsinoid, neuroblastoma, diare klorida kongenital, Clostridium difficile, dan cryptosporidiosis (AIDS). Diare jenis ini tidak akan berhenti meskipun penderita puasa  (Asanawati, Cheng, & Rosdiana, 2012).
b. Diare osmotic (osmotic diarrhea), yaitu Diare yang terjadi karena kita menelan makanan yang sulit diserap, baik karena memang makanan tersebut sulit diserap (magnesium, fosfat, laktulosa, sorbitol) atau karena terjadi gangguan penyerapan di usus (penderita defisiensi laktose yang menelan laktosa) (Asanawati, Cheng, & Rosdiana, 2012).
Diare akut dapat mengakibatkan: (1) kehilangan air dan elektrolit serta gangguan asam basa yang menyebabkan dehidrasi, asidosis ocialc dan hipokalemia, (2) Gangguan sirkulasi darah, dapat berupa renjatan hipovolemik sebagai akibat diare dengan atau tanpa disertai muntah (Mulyana & Kurniasih, 2015).
2.2.3 Etiologi 
Diare dapat menyebabkan hilangnya sejumlah besar air dan elektrolit, terutama natrium dan kalium dan sering disertai dengan asidosis ocialc. Dehidrasi dapat diklasifikasikan berdasarkan ocial air dan atau keseimbangan serum elektrolit. Setiap kehilangan berat badan yang melampaui 1% dalam sehari merupakan hilangnya air dari tubuh. Kehidupan bayi jarang dapat dipertahankan apabila ocial melampaui 15%  (Mulyana & Kurniasih, 2015).
Menurut World Gastroenterology Organization Global Guidelines 2005, etiologi diare akut dibagi atas empat penyebab : 
a. Bakteri : Shigella, Salmonella, E. Coli, Gol. Vibrio, Bacillus cereus, Clostridium perfringens, Stafilokokus aureus, Campylobacter aeromonas. 
b. Virus : Rotavirus, Adenovirus, Norwalk virus, Coronavirus, Astrovirus. 
c. Parasit : Protozoa, Entamoeba histolytica, Giardia lamblia, Balantidium coli, Trichuris trichiura, Cryptosporidium parvum, Strongyloides stercoralis.
d. Noninfeksi: malabsorpsi, keracunan makanan, alergi, gangguan motilitas, imunodifisiensi kesulitan makan,dll  (Mulyana & Kurniasih, 2015).
2.2.4 Penyebab 
Penyebab diare adalah meningkatnya peristaltik usus, sehingga perlintasan kimus sangat dipercepat dan masih mengandung banyak air pada saat meninggalkan tubuh sebagai tinja. Berdasarkan cara kerjanya , obat diare dibedakan menjadi :
Kemoterapeutika ( terapi kausatif ) dimana obat memberantas mikroba atau bakteri penyebab diare. Contohnya : antibiotika dan sulfonamida.
Obstipansia ( terapi simptomatis ) dimana obat menghentikan diare dengan mekanisme adstringensia yaitu menciutkan selaput lendir usus contohnya tanin, tanalbumin. Adsorbensia yaitu mengikat atau menyerap toksin bakteri serta melapisi permukaan mukosa usus. Contohnya : kaolin, karbonat dan pektin.
Penekan peristaltik usus. Contohnya : papaverin hidroklorida, kodein hidroklorida dan loperamida hidroklorida.
Spasmolitika dimana obat melemaskan kejang-kejang otot pada usus. Contohnya : papaverin, atropin dan ekstrak beladon.
Antisekretorik dimana obat mencegah aktifnya cAMP. Contohnya : klorpromazin, bismut susalisilat dan kolestiramin (Sundari, Nugroho, & Nuratmi, 2005).
2.3 Bakteri Esherichia Coli
2.3.1 Pengertian
E. coli merupakan bakteri gram negatif yang berbentuk basil, ada yang individu (monobasil), saling berpasangan (diplobasil) atau berkoloni membentuk rantai pendek (streptobasil), tidak membentuk spora maupun kapsula, berdiameter ± 1,1 – 1,5 x 2,0 – 6,0 μm, dapat bertahan hidup di medium sederhana dan memfermentasi laktosa menghasilkan asam dan gas, kandungan G+C DNA ialah 50 ‒ 51 mol % (Pelczar dan Chan, 1988:949). Pergerakan bakteri ini motil, tidak motil, dan peritrikus. Ada yang bersifat aerobik dan anaerobik fakultatif. E. coli merupakan penghuni normal usus, dan seringkali menyebabkan infeksi. 
Kecepatan berkembang biak bakteri ini berada pada interval 20 menit jika faktor media, derajat keasaman, dan suhu sesuai. Selain tersebar di banyak tempat dan kondisi, bakteri ini tahan terhadap suhu, bahkan pada suhu ekstrim sekalipun. Suhu yang baik untuk pertumbuhan bakteri ini adalah antara 8 OC – 46 OC, tetapi suhu optimalnya adalah 37 OC. Oleh karena itu, bakteri tersebut dapat hidup dalam tubuh manusia dan vertebrata lainnya.
E. coli merupakan bagian dari mikrobiota normal saluran pencernaan. E. coli dapat berpindah karena adanya kegiatan seperti dari tangan ke mulut atau dengan pemindahan pasif lewat minuman. E. coli dalam usus besar bersifat patogen jika melebihi jumlah normalnya. Strain tertentu dapat menyebabkan peradangan selaput perut dan usus (gastroenteritis) (Pelczar dan Chan, 1988:809-810). Bakteri ini menjadi patogen berbahaya apabila hidup di luar usus seperti pada saluran kemih, yang dapat mengakibatkan peradangan selaput lendir (sistitis).
E. Coli merupakan organisme penghuni utama di usus besar, hidupnya komensalisme dalam kolon manusia dan diduga berperan dalam pembentukan vitamin K yang berperan penting untuk pembekuan darah. Dari berbagai penelitian, menunjukkan bahwa beberapa strain E. coli juga dapat menyebabkan wabah diare atau muntaber, terutama pada anak-anak. 
Berbagai makanan dan minuman yang dikonsumsi tidak lepas dari keberadaan bakteri di dalamnya. Namun, jika makanan dan minuman tersebut diolah secara higienis, mungkin bakteri di dalamnya masih memiliki batas toleransi untuk dikonsumsi terutama bakteri patogen penyebab penyakit. Menurut Standar Nasional Indonesia (SNI) keberadaan E. coli pada bahan pangan (makanan dan minuman) berjumlah 0 (nol) koloni dalam 100 ml air  (Elfidasari, Saraswati, Nufadianti, Samiah, & Setiowati, 2011).
2.3.2 Taksonomi dan Morfologi Koloni Bakteri
A. Taksonomi
Taksonomi E. coli sebagai berikut (Elfidasari, Saraswati, Nufadianti, Samiah, & Setiowati, 2011) :
Divisi : Protophyta 
Kelas : Schilomycetes 
Ordo : Eubacteriales 
Family : Enterobacteriaceae 
Genus : Escherichia 
Spesies : Escherichia coli
B. Morfologi Koloni Bakteri
Morfologi bakteri secara umum adalah sebagai berikut: 
1. Form, mengacu kepada bentuk dari suatu koloni bakteri, yaitu melingkar (circular), tidak menentu (irregular), benang (filamentous), dan berakar (rhizoid). Form tersebut adalah bentuk-bentuk dari koloni bakteri yang mungkin akan sering kita jumpai :
a. Ukuran suatu koloni dapat menjadi suatu karakteristik yang berguna untuk identifikasi. Diameter dari koloni secara representatif dapat diukur. Koloni yang berukuran mungil disebut punctiform. 
b. Permukaan. Biasanya permukaan suatu koloni bakteri mengkilap (shiny) dan halus (smooth). Deskripsi permukaan lainnya adalah berurat (veined), kasar (rough), tumpul (dull), berkerut (wrinkled or shriveled), dan berkilau (glistening). 
c. Tekstur. Beberapa istilah yang mungkin sesuai untuk menunjukkan tekstur atau konsistensi pertumbuhan bakteri adalah kering (dry), lembab (moist), berlendir (mucoid), rapuh (brittle), kental (viscous), butyrous (butter). 
d. Warna. Sangat penting untuk mendeskripsikan warna atau pigmen dari suatu koloni. Juga termasuk istilah deskriptif untuk setiap karakteristik optik lainnya yang relevan seperti tak tembus cahaya atau buram (opaque), keruh (cloudy), tembus cahaya (translucent), dan warna - warni (iridescent). 
2. Elevasi. Untuk mendeskripsikan tampak samping dari suatu koloni. Jenis elevasi adalah rata (flat), timbul (raised), timbul dan memiliki tonjolan kecil (unbonate), seperti mangkuk (crateriform), cembung (convex), dan berbentuk bantalan (pulvinate). 

3. Margin. Margin atau tepi suatu koloni juga merupakan karakteristik yang penting dalam mengidentifikasi suatu organisme. Margin dari suatu bakteri antara lain penuh (entire), bergelombang (undulate), berlekuk (lobate), keriting (curled), dan seperti kawat (filiform)  (Elfidasari, Saraswati, Nufadianti, Samiah, & Setiowati, 2011).
2.4 Ekstraksi
2.4.1 Pengertian
Ekstraksi merupakan suatu proses pemisahan kandungan senyawa kimia dari jaringan tumbuhan ataupun hewan dengan menggunakan penyari tertentu. Ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan cara mengekstraksi zat aktif dengan menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa diperlakukan sedemikian, hingga memenuhi baku yang ditetapkan Depkes (RI, 1995) 
Ekstraksi bertujuan untuk menarik semua komponen kimia yang terdapat dalam simplisia. Ekstraksi didasarkan pada perpindahan massa komponen zat padat ke dalam pelarut dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan antar muka, kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut. Proses pengekstraksian komponen kimia dalam sel tanaman yaitu pelarut organik akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dalam pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi keluar sel dan proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentras cairan zat aktif di dalam dan di luar sel. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi laju ekstraksi adalah tipe persiapan sampel, waktu ekstraksi, kuantitas pelarut, suhu pelarut, dan tipe pelarut Depkes (RI, 1995)  (Hambali, Mayasari, & Noermansyah, 2014).
2.4.2 Metode Ekstraksi
A. Maserasi
Maserasi merupakan metode seder-hana yang paling banyak digunakan. Cara ini sesuai, baik untuk skala kecil maupun skala industri.(Agoes,2007). Metode ini dilakukan dengan memasukkan serbuk tanaman dan pelarut yang sesuai ke dalam wadah inert yang tertutup rapat pada suhu kamar. Proses ekstraksi dihentikan ketika tercapai kesetimbangan antara konsentrasi senyawa dalam pelarut dengan konsentrasi dalam sel tanaman. Setelah proses ekstraksi, pelarut dipisahkan dari sampel dengan penyaringan. Kerugian utama dari metode maserasi ini adalah memakan ban-yak waktu, pelarut yang digunakan cukup banyak, dan besar kemungkinan beberapa senyawa hilang. Selain itu, beberapa sen-yawa mungkin saja sulit diekstraksi pada suhu kamar. Namun di sisi lain, metode maserasi dapat menghindari rusaknya sen-yawa-senyawa yang bersifat termolabil.
Ultrasound - Assisted Solvent Extraction 
Merupakan metode maserasi yang dimodifikasi dengan menggunakan bantu-an ultrasound (sinyal dengan frekuensi tinggi, 20 kHz). Wadah yang berisi serbuk sampel ditempatkan dalam wadah ultra-sonic dan ultrasound. Hal ini dilakukan untuk memberikan tekanan mekanik pada sel hingga menghasilkan rongga pada sam-pel. Kerusakan sel dapat menyebabkan peningkatan kelarutan senyawa dalam pelarut dan meningkatkan hasil ekstraksi. 
B. Perkolasi
Pada metode perkolasi, serbuk sam-pel dibasahi secara perlahan dalam sebuah perkolator (wadah silinder yang dilengkapi dengan kran pada bagian bawahnya). Pela-rut ditambahkan pada bagian atas serbuk sampel dan dibiarkan menetes perlahan pada bagian bawah. Kelebihan dari metode ini adalah sampel senantiasa dialiri oleh pelarut baru. Sedangkan kerugiannya ada-lah jika sampel dalam perkolator tidak ho-mogen maka pelarut akan sulit menjangkau seluruh area. Selain itu, metode ini juga membutuhkan banyak pelarut dan me-makan banyak waktu.
C. Sokletasi
Metode ini dilakukan dengan menempatkan serbuk sampel dalam sarung selulosa (dapat digunakan kertas saring) dalam klonsong yang ditempatkan di atas labu dan di bawah kondensor. Pelarut yang sesuai dimasukkan ke dalam labu dan suhu penangas diatur di bawah suhu reflux. Ke-untungan dari metode ini adalah proses ektraksi yang kontinyu, sampel terekstraksi oleh pelarut murni hasil kondensasi sehing-ga tidak membutuhkan banyak pelarut dan tidak memakan banyak waktu. Kerugiann-ya adalah senyawa yang bersifat termolabil dapat terdegradasi karena ekstrak yang di-peroleh terus-menerus berada pada titik didih. 
D. Reflux dan Destilasi Uap
Pada metode reflux, sampel di-masukkan bersama pelarut ke dalam labu yang dihubungkan dengan kondensor. Pel-arut dipanaskan hingga mencapai titik did-ih. Uap terkondensasi dan kembali ke da-lam labu. 
Destilasi uap memiliki proses yang sama dan biasanya digunakan untuk mengekstraksi minyak esensial (campuran berbagai senyawa menguap). Selama pemanasan, uap terkondensasi dan destilat (terpisah sebagai 2 bagian yang tidak sal-ing bercampur) ditampung dalam wadah yang terhubung dengan kondensor. Keru-gian dari kedua metode ini adalah senyawa yang bersifat termolabil dapat terdegradasi  (Mukhriani, 2014).










Tidak ada komentar:

Posting Komentar